Updated: Mengurus Passport Secara Online

Kemaren gue ngurus passport lagi, kali ini buat Niska. Sebetulnya belum ada rencana pergi ke mana-mana sih, cuma karena kebetulan lagi bisa cuti ya dimanfaatkan untuk ngurus passport. Ternyata ada beberapa perubahan dari waktu gue ngurus passport Nara sekitar 2 tahun yang lalu, alhamdulillah jadi lebih baik sekarang (walopun maunya sih lebih baik lagi, kan continuous improvement). Buat yang mau tau┬áprosedurnya gimana, gue tulis di bawah ­čÖé

  1. Masuk ke webnya Direktorat Jendral Imigrasi > Layanan Publik > Layanan Online > Layanan Paspor Online.
  2. Isi data dan upload dokumen yang dibutuhkan (file format .jpg hitam-putih, ukuran max. 300 KB/file). Dokumen yang harus ada: copy KTP, copy KSK, copy akte kelahiran/ijazah/surat nikah. Untuk passport anak, berarti butuh copy KTP ortunya (salah satu aja, ayah atau ibu).
  3. Pilih tanggal kedatangan yang kita inginkan (sekitar 1 minggu dari tanggal kita upload dokumen, ada pilihan beberapa tanggal), dan cuma bisa dateng jam 8-11 pagi.
  4. Cetak tanda terima pra permohonan, ini harus dibawa waktu kita dateng ke kantor imigrasi.
  5. Pas hari-H, bawa tanda terima pra permohonan dan semua dokumen asli + copy dokumen yang dibutuhkan. Seperti biasa, copy dokumen harus di atas kertas A4 (jangan potong copy KTP jadi seukuran kecil, trus copy KSK/akte kelahiran jangan pake kertas folio). Daftar dokumen yang dibutuhkan ada di sini. Untuk passport anak < 17 tahun, jangan lupa bawa semua dokumen ayah dan ibu, tapi saat pengurusan passport bisa kok kalo cuma didampingi salah satu orang tuanya.
  6. Silakan langsung beli map dan materai di koperasi (atau materai bisa bawa sendiri), kalo ngurus passport untuk anak < 17 tahun jangan lupa ngasih tau hal ini waktu beli map soalnya surat pernyataan (yang ada di dalam map) beda dengan surat pernyataan untuk orang dewasa. Harga map termasuk surat pernyataan adalah Rp 10.000.
  7. Setelah ngisi surat pernyataan, tempel materai, dan tanda tangan, bisa ke loket (pendaftaran via) internet untuk nyerahin dokumen. Semua dokumen (asli dan copy) akan langsung diperiksa sama petugas dan akan ditukar dengan nomor antrian. Copy akan dipegang oleh petugas, yang asli bisa kita simpan.
  8. Tunggu nomor antrian kita dipanggil untuk proses pembayaran. Biaya pengurusan passport 48 halaman adalah Rp 255.000.
  9. Abis ini dimulailah saat penantian yang cukup panjang… Nunggu dipanggil untuk foto, ambil sidik jari, dan wawancara. Kalo udah dipanggil paling prosesnya cuma 20 menit, setelah itu bisa pulang.
  10. Simpan tanda terima pembuatan passport, passport akan jadi dalam waktu 3-4 hari kerja (gue ngurus Selasa, bisa diambil Senin minggu depannya).

Nah begitu doang, gampang kan ­čÖé Kalo gampang begini gue males deh ngurus via calo (kecuali kepepet) soalnya harganya beda jauh dan effort untuk ngurus sendiri ga banyak. Proses administrasi udah berkurang dibandingkan dengan 2 tahun lalu (ga usah ngisi formulir offline lagi) dan waktu antrian udah lebih pendek.

Sempet baca di beberapa banner yang tertempel di kantor imigrasi, untuk penggantian passport (perpanjangan?) ada drop box untuk naroh persyaratannya tapi gue belum nanya lagi maksudnya apa dan prosedur tepatnya gimana. Mungkin nanti kalo gue harus perpanjang passport baru bisa cerita lagi.

Advertisements

Mengurus Passport Secara Online = Mudah?

Kalo lo tanya gue, jawabannya tidak.

Awalnya gue menaruh harapan tinggi sama prosedur pengurusan passport online, karena gue pikir bakal lebih cepat dan ga ribet. Ternyata masih belum sesuai harapan gue, mudah-mudahan karena sistem ini masih baru aja dan nantinya akan diperbaiki sambil jalan. Daripada gue ngedumel, mending gue rinci aja ya prosedur pembuatan passport secara online dan offline.

Online:
– Melengkapi dokumen yang dibutuhkan, di-scan grayscale dan ukuran tiap file max. 300 KB.
– Mengisi formulir pembuatan passport online dan meng-upload dokumen yang sudah di-scan.
– Mencetak tanda bukti pengiriman formulir (ada di akhir proses) dan membawanya pada saat datang ke kantor imigrasi.
– Menunggu 3-5 hari kerja sebelum datang ke kantor imigrasi (katanya untuk memastikan data yang di-upload sudah diterima).
– Sampai di kantor imigrasi, mengambil formulir dan nomor antrian.
– Membeli map pengurusan passport (10rb).
– Mengisi formulir yang sebetulnya isinya sama persis dengan formulir online.
– Membawa dokumen asli dan fotokopi yang sama persis dengan file yang sebelumnya di-upload.
– Mengantri untuk pemeriksaan berkas yang hanya dilakukan oleh 1 petugas. Lamanya.. Dalam 30 menit cuma bisa meriksa 7 berkas (oh yes gue hitung waktunya).
– Membayar biaya pembuatan passport sebesar 270rb.
– Mengantri untuk foto dan wawancara.
– Mendapat tanda terima pengambilan passport (selesai 3 hari kerja setelah foto).
– Total kedatangan yang dibutuhkan: 2x (termasuk mengambil passport jadi).

Offline:
– Melengkapi dokumen yang dibutuhkan, asli dan fotokopi.
– Mengambil formulir dan nomor antrian.
– Membeli map pengurusan passport (10rb).
– Mengisi formulir.
– Mengantri untuk pemeriksaan berkas.
– Mengambil tanda terima penyerahan berkas.
– Melakukan pembayaran dan foto serta wawancara di hari berikutnya.
– Menunggu passport jadi (3 hari kerja).
– Total kedatangan: 3x.

Jadi menurut gue perbedaan signifikannya ada di jumlah kedatangan ke kantor imigrasi, kalo offline butuh 3x datang sedangkan online dipotong 1x jadi cukup 2x aja. Apakah ini sebagai kompensasi karena disuruh ngisi formulir 2x? ­čśŤ Yang jelas antriannya semuanya sama, ga ada bedanya.

Oya, ini daftar dokumen yang dibutuhkan:
– Foto kopi KTP
– Foto kopi kartu keluarga
– Foto kopi akte kelahiran dan/atau surat tanda tamat belajar (bisa jenjang sekolah apa pun, ga usah yang terakhir)
– Foto kopi surat nikah

Jangan lupa dokumen asli harus dibawa waktu mengurus passport, karena nanti akan diperiksa kecocokannya dengan foto kopinya.

Kalau untuk anak di bawah 17 tahun, ortunya harus menyiapkan semua dokumen di atas ditambah akte kelahiran anak dan mengisi surat pernyataan yang bisa diambil di kantor imigrasi.

Dan ini do’s and don’ts pengurusan passport:
– Datang pagi-pagi, jam 7 deh. Gue datang jam 8.15 dan berakibat fatal: gue baru selesai wawancara jam 2 siang.
– Siapin fotokopi semua dokumen dalam kertas ukuran A4 (maksudnya fotokopi KTP jangan digunting jadi kecil, biarin aja banyak space kosong) dan jangan difotokopi di kantor imigrasi karena antrinya gila banget (dan ga tertib, gue sampe cape nyuruh orang untuk jangan nyelak).
– Kalo lo ngisi formulir online untuk perpanjangan passport dan kota penerbit passport lo beda dengan kota yang lo tinggalin sekarang, pastikan lo milih kota yang lo tinggalin sebagai kota penerbit. Misalnya: passport gue dulu dibuat di Jakarta Timur tapi sekarang gue tinggal di Surabaya, gue seharusnya milih “Surabaya” sebagai kota penerbit (kayaknya maksudnya kota penerbit passport yang baru deh). Karena gue milih “Jakarta Timur” walhasil formulir online gue dianggap gagal (terkirim ke Jakarta Timur dan ga bisa diproses di Surabaya) dan besok gue harus balik lagi buat foto (formulir gue diproses secara offline). Ibaratnya nih, udah kontraksi akibat induksi tapi bayinya ga lahir juga dan harus c-section. Sakitnya 2x. Capenya 2x. Dan dalam kasus pengurusan passport, mangkelnya berkali-kali.

Akhirnya sih gue cuma mikir: oh mungkin gara-gara itu passport masa berlakunya 5 tahun, kalo masa berlakunya cuma 2 tahun dijamin orang-orang pada stress harus ngejalanin proses ini sering-sering ­čśŤ

PS: passport bayi bisa kok diproses secara online (masukkan NIK dari Kartu Keluarga sebagai nomor identitas, tanggal berlakunya sesuai dengan KTP ayah/ibu). Buktinya malah passport Nara yang sukses sedangkan passport gue gagal total ­čśÇ Oya, kalo mengurus passport anak < 17 tahun, jangan lupa minta surat pernyataan waktu beli map.